Senin, November 22, 2010

We're all the Dreamers


Every great dream begins with a dreamer. Always remember, you have within you the strength, the patience, and the passion to reach for the stars to change the world.
( Harriet Tubman)

Mimpi adalah hal yang sangat common dalam hidup saya, hampir setiap tidur-di rumah, di kendaraan, di kantor, di rumah ibadah pun kadang saya bermimpi. Mulai dari mimpi yang jelas dan terang sampai dengan mimpi yang samar dan susah diingat. Saat saya tanyakan ke beberapa teman ternyata tidak semua dari mereka memiliki intensitas bermimpi dalam tidurnya sebanyak yang saya alami. What's wrong with them? or it might be (wrong) with me...?

Ada beberapa mimpi yang sampai saat ini masih teringat di memory meskipun saya mengalaminya sudah sejak beberapa tahun silam (mungkin sampai di atas sepuluh tahun?) ada juga mimpi yang langsung hilang dari ingatan pas saat saya terjaga dalam tidur.

And the question is, why i keep on dreaming in regular basic? sebenarnya manfaat apa yang bisa saya ambil dari mimpi-mimpi saya ini? apakah ada hubungan langsung antara kehidupan alam sadar (in daily waking life) dengan kehidupan bawah sadar saya?

Penelusuran jawaban atas pertanyaan ini sebenarnya sudah saya lakukan sejak jaman saya masih kecil dulu (seingat saya waktu SD sudah sering mencari arti dari mimpi dalam buku Primbon paling gak- karena itu satu-satunya referensi yang saya temukan saat itu). Saat itu jawaban yang paling saya inginkan adalah apa makna dari mimpi-mimpi saya? dan biasanya akan menjadi paranoid kalau-kalau ternyata terjemahannya tidak sesuai dengan harapan (biasanya mimpi-mimpi yang bermakna akan kehilangan orang-orang terdekat/kematian). Saat ini yang saya inginkan adalah mengetahui fungsi mimpi, keterkaitan dengan real waking life, dan apakah kita bisa mengendalikan mimpi (sendiri atau bahkan mimpi orang lain)?

Let's find out.
Menurut wikipedia Indonesia : Mimpi adalah pengalaman bawah sadar yang melibatkan penglihatan, pendengaran, pikiran, perasaan, atau indra lainnya dalam tidur, terutama saat tidur yang disertai gerakan mata yang cepat (rapid eye movement/REM sleep) --> definisi yang kurang memuaskan saya, silahkan kalau mau dipakai.

Menurut www.sleep.com : Dreams are a communication of body, mind and spirit in a symbolic communicative environmental state of being. --> meskipun agak membingungkan, tetapi sepertinya ini jawabannya.

Saya menggarisbawahi "komunikasi" karena memang seperti itulah kenyataannya. Secara sederhana saya artikan ibaratnya di dalam tubuh kita ada sepasang teman baik, maka cara mereka saling berkomunikasi adalah lewat mimpi. Mimpi buruk berarti ada yang salah dengan hubungan pertemanan mereka (kehidupan dunia nyata kita sedang kacau) dan mimpi baik saya artikan kita sedang berbahagia (semuanya baik-baik saja dalam real waking life).
Jadi dari sini saya mengambil kesimpulan bahwa mimpi berfungsi untuk menyeimbangkan kehidupan kita, meskipun itu sesuatu yang tidak terlihat, tapi itu nyata. Apajadinya kalau tidak ada manusia yang memiliki mimpi? saya yakin kehidupan kita akan kacau..karena tidak ada penyeimbang jiwa (spirit balancing).

Karena mimpi adalah sesuatu yang abstrak, maka budaya telah mensugestikan bahwa mimpi = khayalan. Padahal sejarah sudah membuktikan bahwa banyak hal-hal yang tadinya adalah mustahil dalam dunia nyata (hanya ada dalam mimpi seseorang), ternyata saat ini sudah menjadi kenyataan. Misal : kemampuan terbang manusia, komunikasi jarak jauh, bahkan teknologi kloning.

Terbukti bahwa mimpi bisa jadi akan mengawali suatu perubahan peradaban.

Jadi bagaimana kesimpulannya?
Karena mimpi akan lebih banyak manfaat daripada mudaratnya, maka tetaplah tenang dengan mimpi-mimpi kita (selama teknologi belum bisa mengambil alihnya dari diri kita_Inception mode on).

Bermimpilah yang seems too impossible to reach, maka akan semakin besar gairah kita dalam menjalani kehidupan nyata. Tidak akan berhenti sampai mimpi kita menjadi kenyataan. Seperti apa yang sedang saya perjuangkan saat ini bahwa saya pun berhak berbahagia dengan siapa saja yang nantinya akan menjadi pendamping hidup saya, tidak peduli betapa besar rintangan yang ada, selama mimpi saya masih sama-yaitu memeluknya dari balkon apartement lantai 18 di depan menara Eiffel, Paris - maka saya yakin saya akan berbahagia bersama dia, pada akhirnya...






Senin, November 30, 2009

Sister's Wedding Day


Kemarin, hari Ahad tanggal 29 November 2009 adalah hari yang bersejarah dan membahagiakan bagi keluarga kami. Hari itu adalah hari pernikahan adik saya tercinta, my beloved sister's wedding day.

Segala persiapan yang telah dia lakukan independently (salute for this matter,sis!) telah membawa hasil yang sangat memuaskan, paling tidak kami sekeluarga merasakan hal itu :) Persiapan yang dilakukan dengan cool, tidak grusa grusu ternyata bisa juga membawa hasil yg maksimal (pelajaran berharga : gak ada gunanya menjadi panik karena tenggat waktu yang terbatas ).

Hampir semua kepentingan bisa terakomodir dengan baik, semoga memang semua pihak telah merasakan hal ini (kecuali yang tidak, hmmm...that was their own choice). Perasaan lega yang luar binasa benar-benar telah membuat saya merasa bahagia, maybe beberapa teman saya akan mempertanyakan hal ini dengan alasan :
Pertama, saya adalah kakaknya. dilangkahi? bahkan itu tidak terpikir sama sekali, karena memang bukan masalah yang serius bagi saya (meski kalau saya seorang cewe sekalipun), that the answer for first question.
Ke dua, perasaan khawatir yang berlebihan bahwa saya bakalan kehilangan adik saya satu-satunya. Tadinya agak seperti itu, but setelah dipikir dengan level kedewasaan yang cukup, saya jadi sadar, bukannya kehilangan, malahan adik saya bertambah menjadi dua orang sekarang :) That my second answer.

Dengan perasaan lega tersebut tinggal saya yang mulai berniat menata diri untuk menyusul adik ke bahtera rumah tangga (sepertinya lebih menyenangkan daripada Noah Ark). Secara beberapa pertanyaan yang kemarin saya hadapi dari para tamu yang datang adalah :"Nah, kalau kakak nya? kapan?". "Khan sudah budhe...niatnya paling gak sudah dari tahun lalu, but kesandung masalah pelik tersebut, pura-pura lupa nieh..?" (curcol mode on). Langkah apa yang akan mas lakukan then?
Pertama, berdoa. Kedua, berusaha. dah beres.

Yap, pada intinya saya sungguh bersyukur kepada Allah dan berterimakasih kepada semua pihak yang sudah mendukung kelancaran acara pernikahan adik saya ini. Marliana Widianingrum. God Bless You All :)

Terimakasih.

regards//why




Sabtu, November 28, 2009

Yakin? Bisa Sampai Tahun Depan?


Ini adalah tulisan yang saya buat pas hari raya iedul qurban kemarin di virtual notes saya, posting aah...

Hari ini adalah hari raya iedul qurban, tetapi seperti biasanya, saya telat menyadari bahwa saya tidak bisa ikut berkurban. Alasannya klasik, tidak punya alokasi dana bulan ini untuk membeli hewan kurban. Alasan yang sama yang mungkin dilontarkan oleh ribuan, bahkan jutaan wajib kurban lainnya di Indonesia. Benar-benar klasik.

In another side, kita dengan mudahnya akan mengalokasikan dana cair dari kantong yang sama untuk kepentingan duniawi kita seperti, dana untuk hiburan, update gadget terbaru, ganti handphone, ganti kendaraan dsb.

Gak tau ada ketidakberesan di bagian mana sehingga ada salah kaprah (kesalahan yg sudah dianggap wajar) seperti ini dalam pola belanja masyarakat kita. Sedikit saja untuk ibadah, sedangkan tanpa batas untuk hasrat personal.

Kita tidak akan pernah tau apa yang akan menimpa kita esok hari, seminggu kemudian, atau tahun depan. Keengganan kita untuk menyegerakan ibadah dan menunda hasrat duniawi nampaknya sudah menjadi trademark hidup di masa kini. Seolah-olah kita masih memiliki jatah waktu, kesempatan dikemudian hari yang akan diberikan olehNya, sehingga kalau disuruh ibadah kita cenderung berpikir "nanti saja". Mau kurban, nanti saja kalau longgar dana. Mau sholat, nanti saja kalau dah gak sibuk. Mau haji, nanti saja kalau dah tua. Padahal khan who knows? Siapa yang tahu akan jatah umur masing-masing orang? No one knows!!

Yah itulah kita.
Selalu tidak bisa belajar.
Tau ah, yang jelas tahun depan saya akan kurban sapi, kalao sudah mampu dan ikhlas (tetep bikin alasan..)
Tapi, mari tetap kita aminkan saja.
Amiiin......

Revolution Is Now !!


"Im gonna start a revolution from my bed....", kata Noel/Liam Gallagher dalam lagu Dont Look Back In Anger. Lirik lagu itu sudah menjadi lirik favorit saya sejak jaman muda dulu (kuliah-red), sampai-sampai saya tulis di dinding kamar kost saya, niatnya biar cepet lulus gitu. Kurangi tidur banyak belajar, hapus kemalasan!! tetapi tetap empat tahun lebih juga lulusnya :) But that's helpfull.

Sampai sekarang tetap terngiang kalimat itu, tetapi gaungnya sudah lumayan hilang. Lost! I've lost my spirit. This is why i need to take a deep thoughfull times somewhere to recollect and relight my fire again.

Seorang manusia seharusnya dengan semakin bertambahnya usia maka semakin bertambah dewasa juga cara berpikirnya, cara dia bangkit dari kekalahan, memperbaiki kesalahan dan menjadi semangat lagi. But some people don't do that, mereka terhanyut dalam suasana hatinya. Bukannya menjadi bagian dari solusi malahan menjadi bagian dari masalah dia sendiri. Kekhawatiran seperti itu sekarang menjadi bagian dari pemikiran saya. Jangan-jangan, saya memang sudah kehilangan api itu, padam selamanya.

Tetapi sepertinya nyala terang itu mulai kembali saya temukan firespotnya beberapa waktu yang lalu, tidak tau kapan tepatnya, tetapi saya merasakan bahwa kehadiran orang lain dalam kehidupan pribadi saya memang saya butuhkan. Bukan hanya sebagai teman bicara dalam segala suasana (mirip tagline iklan permen :), tetapi memang sebagai salah satu titik api yang harus saya kumpulkan kembali. Saya akan mulai membuka lebar pintu special relationship itu kembali, karena memang basicaly kita juga makhluk sosial toh?

Semoga dari situ saya bisa kembali menemukan titik-titik api lain dalam kehidupan saya dan kembali bisa menyatukannya untuk menjadi sebuah nyala api yang sangat membakar, tidak hanya diri sendiri, tetapi saya berharap bisa membakar juga orang lain. Karena bangsa ini sedang benar-benar membutuhkan api biru yang tidak mudah padam tertiup angin, tidak surut karena terguyur hujan, dan abadi.

Saya yakin hal itu bisa saya capai asalkan saya tetap konsisten dengan prinsip hidup, bahwa setiap hari adalah sangat berarti, jangan sampai melewatkan suatu kesempatan baik hanya karena kita terlalu melihat pada masa lalu. Everyday is a new life!! Jangan pernah disia-siakan !!
Setiap kita terbangun di pagi hari adalah sebuah awal revolusi !! Revolusi dalam hidup kita yang nantinya akan dipertanggungjwabkan di hadapan Sang Pemilik Waktu. Love your life, love your days, take a deep breath and enjoy the show.

Relight Your Fire ( Just find the lighter and burn yourself forever ) !!
Saatnya untuk berubah, kapanpun kita terpuruk just temukan kembali kekuatan untuk bangkit dari lingkungan sekitar kita. Open your mind for a differrent view.

Don't look back in anger..." let it go, don't let the anger taint the person you've become just because of the past. Be yourself no matter what they say (mencoba berdamai dengan diri sendiri Mas? hee...)

Merdeka !!

Minggu, September 13, 2009

Kejujuran Dalam Pencarian



Akhiiirnyaaa.....
Saya bisa nge-blog lagi..

Setelah sebulan lebih off (karena beberapa penyebab), dan akhirnya melewatkan beberapa peristiwa penting sepanjang bulan Agustus dan awal September seperti penggerebekan "teroris" di Temanggung, mulainya bulan puasa, beberapa peristiwa politik dan ekonomi di tanah air, dan gempa bumi 7.3SR yang mengguncang tanah Jawa 2 September kemarin, ada juga beberapa peristiwa yang menyangkut secara personal yang luput dari reportase blog.

Fiuuuh...
But its not a big problem i think, as long as i still could remember them with all the moral story inside out.

Back to the post, feel enlightened.
Merasa banyak sekali yang harus saya tulis, i didn't hope people would take a respect at my post but it happened. Merasa senang saja. Maka, akan lebih banyak saya tulis postingan yang semoga akan bermanfaat bagi orang lain, lebih-lebih bagi diri saya sendiri dalam rangka getting a new perspective dalam menghadapi setiap masalah dalam kehidupan ini. Masalah-masalah baru yang tidak bisa kita selesaikan dengan cara-cara lama.

Selalu Mencari
Ada beberapa hal yang cukup mengganggu pikiran saya selama bulan Ramadhan ini, yaitu: pertama, mulai meyakini bahwa kehidupan ini benar-benar cuma sekejap mata saja dan yang kedua adalah apakah saya sudah melihat diri sendiri dalam penilaian yang jujur?

Kegalauan pikiran saya yang pertama berasal dari peristiwa gempa bumi kemarin yang saya rasakan pas berada di lantai 17, kalau misal Tuhan menakdirkan saya mati saat itu apa jadinya? selama 26 tahun kehidupan saya (dikurangi 15 tahun masa bebas tanggungjawab), apa saja yang sudah saya lakukan? kalau bukan karena rahmat Tuhan, pasti neraka jawabnya.

Penyebab lain dari keyakinan bahwa hidup ini memang sekejap saja adalah proses pembelajaran saya atas ayat-ayat Tuhan dimana saya meyakini 100% kebenarannya, yang secara langsung telah menohok dada saya, mempertanyakan : apa saja yang sudah kamu lakukan untuk orang lain di kehidupanmu yang pendek ini, berapa bekal yang sudah kamu dapatkan untuk perjalanan panjang nanti dan beberapa ayat-ayat ilmiah yang menyatakan bahwa perhitungan masa/waktu di bumi adalah berbanding jauh dengan masa/waktu yang dimiliki Tuhan.

Oleh karena itu yang akan saya lakukan saat ini adalah lebih jauh lagi dalam mencari, lebih serius lagi, lebih intens lagi dalam mengumpulkan bekal untuk hari keabadian kelak. Saya berharap jalan ilmu, jalan hikmah akan lebih terbuka bagi saya sehingga lebih lapang dada ini dalam menerima cahaya kebenaran. Amiin...

Kejujuran
Ketika salah seorang teman menanyakan kepada saya apa yang sebenarnya kamu cari, Mas? kemudian dia berkata saya adalah seorang yang labil, saya mulai menyadari bahwa sampai saat ini saya masih belum bisa jujur terhadap diri sendiri (bahkan untuk pertanyaan basic seperti itu saya masih ragu akan jawabannya apa?). Dan saya juga menyadari bahwa selama ini saya telah menilai diri saya dengan penilaian yang "terlalu tinggi". Over self esteem? kegalauan saya nomor dua.

Saya jadi ingin jujur bahwa saya pun masih bingung sebetulnya, atau tepatnya saya takut untuk menerima kejujuran diri sendiri. Entah karena apa.

Semoga setelah melalui banyak penempaan di bulan suci ini pada akhirnya saya bisa jujur, menilai diri sendiri dengan apa adanya dan bisa mendengarkan kata hati yang paling halus sekalipun. Semoga saya akan bisa meraih kemenangan itu. Karena kata salah satu iklan rokok, "Kemerdekaan Sejati Adalah Keberanian Untuk Mengikuti Kata Hati", yang artinya semoga bukan anjuran untuk mengikuti kata hati "apabila pengen merokok, merokok sajalah", peduli amat dengan label haram MUI, hee...

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1430H.
Semoga kita semua bisa memetik hikmah dari setiap peristiwa dengan jujur.

Jumat, Juli 31, 2009

Big City and The Money


This is a question that I wanna ask to everyone in this town, “People, didn’t you ever feel so tired of hanging around? Try to get some money, night and day, then you used it for nothing? Just disappear like dust in the wind? Fuuuh, I feel so tired, so tired….then what im looking for actually?

Now im wondering how’s life if we just don’t need some money to make us live?

Or at least we just need a proper size of money, we collect ‘em just for a day in a couple hours, then spent it for the rest of our day? Oh God, we might be have more times to think again about our (human) purpose of life. We don’t need to feel affraid of lack of money. Because we just need it for buying some food to eat. Then we could sleep all night after take a walk to our neighborhood to listen to their story of the day…ooh, what a life it would be!!

I love my childhood life when everything was not measured by money.

I lived in a peacefull-spontaneously-life of harmony like im hearing a cozy sound of ,music in my ears then it plays immortally. Where ever I’d go, I’d no worries at all. It just because I’d never had some money in my pocket.

But how it would gonna be if we don’t have any money at this adollescence life?

Especially in this big city life? I could imagine a hard life there would be. So, where’s the problem actually lays on? the big city or the money?

Oh God please help me, I’m so affaraid of being trapped in this fake plastic life.

Please show me the lights !! Amiin..

Minggu, Juli 12, 2009

National Election Day


As we knew, 8 Juli 2009 beberapa hari yang lalu telah menjadi salah satu hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Karena paling tidak, arah perjalanan negara kita tercinta akan ditentukan melalui pemilihan pemimpin negara untuk masa jabatan lima tahun mendatang.

Lepas dari segala kekurangan yang ada, kita bisa mengatakan bahwa hajatan nasional kali ini bisa dikatakan sukses. Tidak ada ketegangan dan keresahan sosial dalam masyarakat yang diberitakan telah terjadi.

Berkat teknologi informasi yang sedemikian maju, hanya dalam hitungan jam saja perkiraan hasil pilpres 2009 ini sudah bisa ”diketahui”. Dan, akan lebih simpel karena hampir bisa dipastikan pilpres hanya akan berlangsung satu putaran saja (yah..ngga ada hari libur lagi donks...?). Melalui hasil perhitungan metode quick count, salah satu pasangan kandidat presiden dan wakil presiden sudah memenuhi syarat kemenangan satu putaran, yaitu memperoleh sedikitnya 50 persen plus 1 suara dan menguasai 20 persen dari minimal 17 propinsi.

Anggaplah bahwa hasil akhir yang akan diumumkan secara resmi oleh KPU sudah bisa kita tebak dengan tepat, lalu apa yang saat ini paling kita butuhkan?

Menurut saya, hal yang paling urgent adalah sebuah rekonsiliasi nasional, dimana semua pihak yang saling bersaing dalam rangkaian pesta demokrasi kemarin bisa saling menghormati satu sama lain, yang menang akan merasa bahwa ini adalah kemenangan seluruh bangsa Indonesia, bukan melulu kemenangan partainya, atau bahkan capres dan cawapresnya, dan bagi pihak yang kalah bersaing akan dengan mudah mengakui kekalahannya dan mendukung kemenangan pesaingnya dengan lapang dada.

Yap, kebesaran jiwa untuk menerima kemenangan dari lawan kita adalah sebuah hal yang tidak mudah. Bagaimanapun sebuah kekalahan akan sulit untuk dilupakan. Tetapi tidak untuk orang yang berjiwa ksatria.

Salut untuk salah seorang capres yang ”kalah” yang telah dengan legowo menerima ”kekalahannya” dan mengucapkan selamat kepada sang incumbent yang menang. What an honourable soul to have!

Tidak hanya dalam skala kehidupan yang makro seperti persaingan politik, atau hal publik lainnya yang bisa kita amati sehari-hari. Kebesaran jiwa dari setiap insan untuk mengakui kekalahan saya pikir adalah salah satu sifat mulia yang harus kita miliki dalam kehidupan sehari-hari. Tidak perlu ada dendam yang tidak akan menghasilkan apa pun.

Tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan.

Terkadang persaingan memang dibutuhkan untuk menciptakan sebuah hasil yang terbaik, dalam rangka memperoleh yang terbaik di antara pilihan yang tersedia. Jika sebuah persaingan telah berakhir dan muncul ke permukaan siapa yang menjadi pemenang, maka harus kita akui dengan jantan. Karena kita pun sebenarnya telah ”berjasa” dalam menentukan pemenang dengan mengikuti persaingan tersebut. Silahkan dibayangkan apabila tidak pernah ada persaingan yang terbukti akan menghasilkan yang terbaik di antara pilihan yang ada? Pastinya kehidupan akan menjadi tidak menarik, dan orang-orang tidak akan pernah mendapatkan yang terbaik yang sebenarnya layak untuk mereka dapatkan. Persaingan telah terbukti melahirkan inovasi-inovasi baru dalam dunia bisnis dan teknologi dimana ujung-ujungnya pasti akan menguntungkan banyak pihak juga. Makes life come easier.

Intinya, menang atau kalah pun Anda tetap menjadi pemenang, dengan memutuskan untuk berani ambil bagian dalam persaingan (yang sehat). Agama pun berwasiat agar kita selalu berlomba dalam hal kebaikan, bukan? Karena alam pun bekerja dengan sistem yang sama : survival of the fittest. Jadi, mari kita tetap bersaing dengan sehat demi kemajuan bangsa dan negara kita tercinta, Indonesia!! Jangan pernah biarkan bangsa ini ditindas oleh bangsa lain hanya karena kita tidak memiliki daya saing. It would never be happened selama kita, generasi muda Indonesia terus berusaha, sekuat tenaga untuk terus berpikir progressif dan jernih. Jauhi dendam, bersihkan hati dan pikiran, dan optimalkan daya saing. Itu semua demi kemandirian dan harga diri bangsa!! Dan semoga Pemilu kemarin adalah langkah awal untuk menuju ke arah kejayaan bangsa Indonesia. Amiin.... Merdeka !!

Selasa, Juni 30, 2009

So Little Time So Much To Ask


Beberapa hari yang lalu saya ditanya oleh boss dari boss saya. Kata beliau, ”Bagaimana dengan presentasi yang sudah kamu simak kemarin, bro?”, beliau menanyakan pendapat saya tentang kuliah umum finance beberapa minggu yang lalu. ” Lumayan Pak (kata aman biar dibilang pinter but actually gak mudeng-mudeng amat), rupanya budaya bertanya di sini masih lumayan kurang”, jawab saya. Beliau hanya diam. Padahal saya tahu benar bahwa sebetulnya tujuan pak boss berulang-ulang menawarkan apakah ada pertanyaan dari kami adalah untuk membuka kebuntuan itu. Tetapi kami masih tetap malu-malu(in). Hanya terlahir sedikit pertanyaan pada waktu itu.

Di rumah, saya sedang kewalahan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari keponakan saya yang baru akan berumur dua tahun. Bukan karena saya bosan, tetapi hanya ingin memberikan jawaban yang terbaik. Berbohong, meskipun itu kepada anak kecil, adalah perbuatan yang kurang terhormat menurut saya. Apa saja dia tanyakan. ” Oom, apa ini?”, ”Oom, apa itu?”, berulang-ulang untuk satu deretan buku di rak buku saya, yang notabene semuanya adalah buku buku juga, tetapi bagi anak kecil itu adalah lebih dari satu jenis benda. Andai saja kita bisa menanyakan apa saja seperti dia. Tanpa malu dianggap bodoh. What a Life !!

Terkadang, kebuntuan yang ada di dalam kehidupan kita sehari-hari bisa saja dipecahkan hanya dengan menanyakannya. Just ask your questions. Tanyakan saja lah. Tetapi, rupanya budaya malu dan malas bertanya itu sudah mengakar kuat di otak kita sehingga sebagian besar dari kita mending memilih diam, daripada mengajukan pertanyaan hanya karena takut dibilang bodoh. Padahal kata pepatah, orang yang bertanya akan terlihat bodoh untuk jangka waktu lima menit saja, tetapi orang yang tidak pernah bertanya akan terlihat bodoh seumur hidupnya.

Memang, tidak sembarang pertanyaan akan selalu bisa kita ajukan ke setiap orang di segala suasana. Pertanyaan yang bermutu tentunya akan lebih menyenangkan untuk dijawab. Contoh sederhana: pertanyaan yang ”mentah” justru akan memperlihatkan kelemahan si penanya di hadapan khalayak ramai, pertanyaan dalam acara penting seperti debat calon presiden, atau pertanyaan dalam rapat dengar pendapat antara pemerintah dengan DPR , atau pertanyaan dalam wawancara dengan tokoh internasional misalnya. Pertanyaan yang diajukan memang harus benar-benar ”dipikirkan”. Tetapi selebihnya, kita bisa menanyakan apa saja. Misalkan dalam rangka mencairkan suasana tegang dan kaku, kita bisa menanyakan cuaca, makanan, hobi, berita, dan mungkin gosip kepada orang asing yang duduk di sebelah kita dalam perjalanan pulang dari kantor misalnya.

Banyak pertanyaan yang ternyata menjadi tonggak peubahan peradaban yang lebih maju. Dahulu, mungkin pertanyaan-pertanyaan ini selalu ditanyakan atau malah menjadi dongeng pengantar tidur nenek moyang kita: apakah manusia bisa terbang? ada apa di ujung horison sana? kenapa ada siang dan malam? apakah malam hari bisa terang seperti siang? apakah suatu penyakit bisa disembuhkan, dll. Yang ternyata, pertanyaan tersebut telah menuntun manusia ke arah penemuan beribu-ribu objek yang sangat bermanfaat di kemudian hari.

Tetapi, entah bagaimana tiba-tiba ”curious mind” yang kita miliki pada waktu kita masih kecil-seperti keponakan saya sekarang-bisa hilang begitu saja ketika kita sudah dewasa. Sepertinya ada yang salah dengan sistem pendidikan kita, dimana mungkin guru akan menjawab pertanyaan sekena-nya kepada siswa sehingga siswa jadi malas bertanya, atau siswa yang gemar bertanya akan dicap bodoh, atau kita memang hanya berorientasi pada hasil bukan proses? (seperti tujuan diadakannya standar UAN?). Who knows.....

Yang jelas, jangan pernah merasa segan untuk bertanya tentang berbagai hal yang Anda ingin tahu jawabannya. Biarlah orang bilang kita bodoh, tetapi jiwa terpuaskan dengan mengetahui jawabannya dan kita menjadi orang yang setingkat lebih tahu daripada orang yang tidak pernah bertanya. Tak ada ruginya toh?

Tanyakan apa saja. Tanyakan kenapa sekolah mahal? Tanyakan kenapa sembako murah susah didapatkan? Tanyakan kenapa negara kita banyak hutang? Tanyakan kenapa tidak ada negarawan yang layak menjadi panutan? Tanyakan kenapa angka kejahatan meningkat? Tanyakan kenapa Rupiah tidak bisa menguat? Tanyakan kenapa Jakarta tambah macet, sering banjir dan tambah polusi? Tanyakan kenapa pekerjaan susah diperoleh di desa-desa? Tanyakan kenapa mahasiswa masih suka tawuran? Tanyakan kenapa TKW sering disiksa majikan di negeri seberang?

Dan tanyakan perasaan orang lain terhadap Anda apabila memang ingin mengetahuinya. Perkara jawabannya nanti tidak seperti yang diharapkan, itu adalah resiko bawaan, yang tidak bisa dipisahkan dari aksi pengajuan pertanyaan. Just take the pills. Salut buat seorang teman yang sudah menanyakan hal ini ke saya. Altough i gave you a No, but it doesn’t mean that i hate you. Its just a matter of time. Someday, somehow, and somewhere else. Who knows? Siapa siy Mas yang dimaksud….? ada deeh..mau tauuu aja, heee :D